Sindrom Reiter: Tiga-serangkai konjungtivitis, urethritis, dan arthritis serta manifestasi-manifestasi lainnya

Wednesday, January 27, 2010

Abstrak

Sindrom Reiter, yang juga dikenal sebagai arthritis reaktif, adalah tiga serangkai dari konjungtivitis, urethritis, dan arthritis yang terjadi setelah sebuah infeksi, khususnya infeksi pada saluran urogenital atau gastrointestinal. Manfiestasinya pada kulit cukup umum, termasuk keratoderma blennorrhagicum, circinate balanitis, vulvitis ulseratif, perubahan kuku, dan lesi-lesi oral. Dari sudut pandang epidemiologi, penyakit ini lebih umum pada laki-laki, walaupun beberapa kasus telah dilaporkan pada anak-anak dan perempuan. Patofisiologinya belum diketahui, tetapi faktor-faktor infeksi dan imun kemungkinan terlibat. Gambaran klinis, keparahan, dan prognosisnya bervariasi. Pengobatan cukup sulit, khususnya pada pasien positif-HIV. Prognosis bervariasi; 15% sampai 20% pasien bisa mengalami komplikasi kronis parah.
(J Am Acad Dermatol 2008;58:113-21)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Karakteristik Fisik dan Biologis Material Implant

Friday, January 16, 2009

Telah dimaklumi bahwa agar implant gigi menjadi sebuah modalitas perawatan yang dapat diterima untuk pasien edentoulous, maka interaksi dengan jaringan host dalam permukaan implant yang bersangkutan harus dipahami. Hubungan dekat antara jaringan host dengan permukaan implant sangat penting untuk pembentukan dan perawatan interface selama masa hidup. Pada umumnya telah disepakati bahwa implant gigi harus bersentuhan dan berintegrasi dengan beberapa tipe jaringan host. Pentingnya pembuatan dan perawatan sebuah interface (pertemuan) tulang–implant untuk retensi mekanis dan transmisi gaya-gaya oklusal telah disadari sejak 15 tahun yang lalu (Albrekstsson dkk., 1983; Branemark, 1983). Akan tetapi, meskipun telah banyak keberhasilan yang dicatat untuk implant gigi, namun kegagalan implant juga telah ditemukan, sebagiannya diakibatkan oleh buruknya integrasi antara jaringan konektif dengan jaringan epitelium dan kegagalan selanjutnya akan menghasilkan sebuah tutup permukosal yang berhubungan dengan struktur gigi alami. Dari sudut pandang biologis, karakteristik substrat implant, yang memungkinkan integrasi antara jaringan keras dan jaringan lunak dan mencegah adhesi bakteri dan plak, perlu dipahami lebih lanjut. Diyakini bahwa jika pemahamanyang lebih mendalam tentang jaringan host telah diperoleh, maka perbaikan material yang digunakan saat ini serta material yang baru dan berkembang berdasarkan teknik jaringan dan prinsip biomimetik akan menjadi tersedia untuk digunakan dalam bidang implant gigi.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Bagaimana Fluoride dapat Mempengaruhi Microhardness Dan Mineralisasi Dentin?

Abstrak

Fluoride (F) telah menjadi sebuah zat yang bermanfaat dalam pencegahan karies gigi. Akan tetapi, masih sedikit data yang ada tentang efek penggunaan jangka panjangnya terhadap pola-pola mineralisasi dan kepadatan struktur dentin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi F gigi dan keparahan fluorosis gigi (DF) terhadap microhardness dentin dan mineralisasinya. Kami mengumpulkan 137 gigi di Montreal dan Toronto, Canada dan Fortaleza, Brazil, dimana kadar Fluoride air optimum dan sub-optimum masing-masing adalah 0,2 ppm, 1 ppm, dan 0,7 ppm. Gigi yang diperoleh dianalisis keparahan DF nya, fluoride dentin, fluoride email gigi, microhardness dentin, dan mineralisasi dentin. Fluoride dentin berkorelasi dengan keparahan fluorosis gigi (DF); fluoride email berkorelasi dengan microhardness dentin dan mineralisasi dentin; keparahan DF berkorelasi dengan microhardness dentin. Faktor-faktor genetik (misalnya keparahan DF) dan faktor-faktor lingkungan (misalnya fluoride gigi) mempengaruhi sifat-sifat mekanis (kekerasan) gigi, sementara hanya faktor lingkungan yang mempengaruhi sifat-sifat materialnya (misalnya mineralisasi). Gigi yang diperoleh dari Fortaleza lebih keras dan lebih sedikit terdemineralisasi serta menunjukkan nilai fluoride dentin yang lebih tinggi. Gigi yang diperoleh dari Montreal menunjukkan kadar DF yang lebih rendah jika dibandingkan dengan gigi dari Toronto dan Fortaleza.

Kata kunci : fluoride, ultrasound, ukuran tubula, dentin, email, manusia.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Teknik baru untuk osteotomi mandibular

Friday, January 2, 2009

Abstrak

SSO (Sagittal Split Osteotomy) merupakan sebuah teknik bedah yang banyak digunakan untuk mobilisasi mandibular dalam prosedur-prosedur ortognatik. Akan tetapi, desain tradisional osteotomi bukal, yang terdapat pada pertemuan antara cabang dan badan mandibular, bisa mencegah pergeseran antara segmen-segmen tulang, khususnya pada bagian atas, bagian samping dan tengah badan mandibular. Disini diusulkan sebuah teknik baru dan sebuah solusi konseptual, dimana osteotomi dilakukan pada bagianyang lebih jauh dari badan mandibular, setelah mental formamen. Secara teknis, luas daerah yang bersentuhan antara permukaan-permukaan tulang bersumsum yang berpori akan bertambah, sehingga menghasilkan pergeseran yang lebih besar diantara segmen-segmen tulang tersebut; teknik ini juga mempermudah penggunaan sistem fiksasi kaku, dengan sekrup plat-mini dan sekrup monokortikal. Secara konseptual, teknik ini mengganggu sistem resistensidari rahang bawah, yang dianggap sebagai pengumpil interpotent dari jender ketiga.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Modifikasi sifat-sifat permukaan biomaterial mempengaruhi kemampuan Candida albicans untuk membentuk biofilm

Tuesday, December 30, 2008

Abstrak

Biofilm Candida albicans terbentuk pada alat-alat medis yang tertanam pada badan manusia (misalnya, acrylic gigitiruan atau kateterkateter intravenous) dan dapat menyebabkan infeksi (candidiasis) pada mulut dan bersifat invasif. Disini, akan ditentukan apakah modifikasimodifikasi terhadap permukaan polyeteruretana (Elasthana 80A [E80A]), polykarbonateuretana, dan poly(etilenetereftalat) (PET) dapat mempengaruhi pembentukanbiofilm jamur. Polyuretana dimodifikasi dengan menambahkan 6% polyetilen oksida (6PEO), 6% fluorocarbon, atau silikon, sedangkan permukaan PET dimodifikasi agar menghasilkan permukaanpermukaan yang bersifat hidrofil, hidrofob, kationik, atau anionik. Pembentukan biofilm dihitung dengan menentukan aktivitas metabolik dan biomassa total (berat kering), sedangkan strukturnya dianalisis dengan CSLM (confocal scanning laser microscopy). Aktivitas metabolikbiofilm yang dibentuk oleh C. albicans pada 6PEOE80A sangat berkurang (sebesar 78%) dibandingkan dengan biofilm yang terbentuk pada E80A yang tidak dimodifikasi (kepadatan optik masing-masing adalah 0,054 ± 0,020 dan 0,24 ± 0.10; P = 0,037). Total biomassa dari biofilm Candida yang terbentuk pada 6EPOE80A adalah 74% lebih rendah dari total biomassa yang terbentuk pada permukaan E80A yang tidak dimodifikasi (masing-masing 0,46 ± 0,15 dan 1,76 ± 0,32 mg; P = 0,003). Sel-sel jamur dapat dilepaskan dengan mudah dari permukaan 6PEOE80A dan kami tidak mampu mendeteksi biofilm C. albicans dengan menggunakan CSLM. Semua modifikasi permukaan yang lain memungkinkan pembentukan biofilm C. albicans, dengan beberapa perbedaan struktur. Korelasi antara sudut kontak dan pembentukan biofilm diamati untuk substrat polyeteruretana (r = 0,88) tapi tidak untuk biomaterial PET (r = 0,40). Penelitian ini menunjukkan bahwa modifikasi permukaan merupakan sebuah pendekatanyang dapat ditempuh untuk mengidentifikasi permukaanpermukaan yang memiliki karakteristik antibiofilm. Pengamatan-pengamatan lebih lanjut tentang manfaat klinis dari permukaan-permukaan yang diidentifikasi sangat diperlukan.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Perdarahan parah yang terjadi selama dilakukannya biopsy insisional: sebuah laporan kasus

Abstrak

Latar Belakang : Prosedur-prosedur bedah dengan menggunakan anestesi lokal banyak digunakan oleh dokter gigi dan sangat rentan terhadap komplikasi-komplikasi signifikanyang memerlukan perawatan langsung dari spesialis gigi.

Laporan : Laporan ini menyajikan sebuah kasus perdarahan arteri parah yang terjadi selama pemindahan sebuah lesi dalam proses biopsy insisional.

Ringkasan : Untuk perdarahan arteri parah yang terjadi di klinik gigi konvensional, kompresi manual untuk menahan perdarahan dan penggunaan sumber cahaya yang layak untuk memvisualisasikan asal-usul perdarahan secara tepat, dianjurkan. Jika bisa dilihat, maka ahli-bedah gigi harus mencoba untuk melakukan pengikatan atau pembalutan oklusif. Jika perdarahan tidak bisa dikendalikan dengan tindakan-tindakan ini, maka pasien harus dirujuk ke sebuah rumah sakit sambil tetap melanjutkan kompresi local selama dirujuk ke rumah sakit.

Kata kunci : Komplikasi bedah, perdarahan arteri, biopsy insisional, patologi mulut, bedah mulut.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

Uji mikronukleus pada sel-sel epitel buccal dari pasien-pasien yang telah menjalani pemeriksaan radiografi panoramik

Sunday, December 28, 2008

Abstrak

Tujuan : Untuk mengevaluasi efek getonotoksik dari paparan radiasi yang digunakan dalam prosedur diagnosis gigi, diukur menurut pembentukan mikronukleus.

Metode : Uji mikronuklues dilakukan pada sel-sel epitel buccal, yang merupakan sel-sel target untuk radiografi gigi. Spesimen-spesimen sel-sel buccal diambil dari pasien-pasien yang menjalani radiografi panoramik. Sampel diambil dari 32 pasien, 12 pria dan 20 wanita, berusia antara 24 sampai 73 tahun, sebelum dan 10 ± 2 hari setelah paparan radiasi panoramik.

Hasil : Tidak ditemukan adanya peningkatan sel yang memiliki mikronukleus dan tidak ada peningkatan jumlah total mikronuleus setelah menjalani tomografi panoramik. Nilai mean sel-sel buccal yang memiliki mikronukleus ± standar deviasi (SD) sebelum dan setelah prosedur radiasi masing-masing adalah 2,34 ± 1,49% dan 2,81 ± 1,64%. Ditemukan korelasi signifikan antara usia pasien yang diteliti dengan frekuensi awal mikronukleus dalam sel-sel buccal.

Kesimpulan: Pemeriksaan radiografi panoramik tidak mempengaruhi mikronukleus pada sel-sel epitel buccal yang menjadi target paparan radiasi.

Kata kunci: radiografi panoramik, bahaya radiasi, uji mikronukleus, sel-sel epitel buccal.

download file PDF asli (English)

download file terjemahan (bahasa Indonesia)

Penting: Anda akan diarahkan ke halaman download setelah mengklik link download terjemahan bahasa Indonesia di atas. Anda harus mengisi sebuah survei yang muncul otomatis sebelum link download terbuka.

 
Bloggerized by Blogger Template